Menjaga dan menguasai mulut

diam11

 

 

Mazmur 39:2 Pikirku: “Aku hendak menjaga diri, supaya jangan aku berdosa dengan
lidahku; aku hendak menahan mulutku dengan kekang selama orang fasik masih ada di
depanku.”

Ayat ini di tulis oleh Daud, raja kedua yang memerintah Israel. Daud adalah raja besar, lebih
besar dari Saul namun Daud menyadari bahwa lidah yang tidak di kekang akan membawa ke
dalam dosa. Lidah itu kecil, tetapi apabila tidak di kekang akan membawa masalah besar.
Dalam kitab Yakobus dikatakan lidah itu bagaikan api kecil yang semakin dikipas semakin
besar yang akhirnya menghanguskan apa saja.

Pada ayat diatas dengan jelas Daud mengatakan bahwa mulut itu harus dikekang di depan
orang fasik. Benar! Sebab orang fasik itulah yang akan mengipas-ngipas api yang kecil itu
menjadi api yang besar. Namun pada kenyataannya tidak demikian, justru banyak orang tidak
menjaga mulut di depan orang fasik. Akibatnya gosip menjalar dengan cepat bagaikan penyakit
menular.

Harun dan Miryam pernah tidak menjaga mulut mereka, mereka menggosipi dan
mengata-ngatai Musa. Itu dapat kita lihat pada ayat dibawah:

Bilangan 12:1 Miryam serta Harun mengatai Musa berkenaan dengan perempuan Kush
yang diambilnya, sebab memang ia telah mengambil seorang perempuan Kush.

Akibatnya Miryam kena hukuman dari Tuhan, dia kena kusta dan harus disingkirkan keluar dari
jamaah Israel tujuh hari lamanya.

Demikianlah bagi orang yang tidak menjaga perkataannya, suatu saat mereka akan kena “kusta” ,
yaitu suatu penyakit yang membuat seseorang disingkirkan. Ia akan disingkirkan dari
komunitasnya, tidak di percayai lagi dan di cap sebagai pemecah belah. Bagi anak-anak Tuhan,
menjaga mulut adalah suatu keharusan karena apabila mulut tidak di kendalikan maka
sia-sialah ibadahnya.

Yakobus 1:26 Jikalau ada seorang menganggap dirinya beribadah, tetapi tidak
mengekang lidahnya, ia menipu dirinya sendiri, maka sia-sialah ibadahnya.
Lalu, bagaimana kita bisa mengekang lidah?

Apa yang keluar dari mulut itu adalah luapan dari isi hati. Ibaratkan minuman yang bersoda,
ketika botol minuman itu di guncang-guncang maka soda yang ada didalamnya akan menekan
tutup botol. Suatu saat apabila tekanan itu semakin kuat menekat tutup botol dan apabila pada
saat itu ada usaha sedikit saja untuk membuka tutup botol itu, maka air soda yang ada di
dalamnya akan menyembur dengan kuat keluar.

Mulut itu diibaratkan tutup botol, apabila isi hati kita mengalami tekanan, maka tekanan itu akan
di salurkan ke mulut, dan ketika mulut itu sedikit saja di beri kesempatan dibuka, maka mulut itu akan terus menyerocos mengeluarkan semua yang ada di dalam hati. Jadi, untuk dapat
mengekang mulut maka kuasa hati, redakan semua luapan yang ada di dalam hati dan jaga diri
dari orang fasik yang senantiasa berusaha mengipas-ngipasi.

Tuhan Yesus memberkati. Amin

Dikutip : http://www.renungan-kristen.com

Iklan

Diberkatilah orang yang mengandalkan Tuhan

Yeremia 17:7 Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN!

Ada dua hal yang harus kita lakukan untuk memperoleh berkat Tuhan menurut ayat ini yaitu mengandalkan Tuhan dan menaruh harapan hanya kepada Tuhan. Ada banyak orang yang ingin di berkati tetapi tidak mengandalkan Tuhan. Mereka lebih mengandalkan kepintaran dan kehebatannya, akibatnya yang ada adalah kekecewaan demi kekecewaan. Orang yang mengandalkan kekuatannya sendiri atau dengan kata lain mengandalkan manusia akan senantiasa hidup dalam kutuk. Itu dapat kita lihat pada ayat dibawah;

Yeremia17:5-6 Beginilah firman TUHAN: “Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada TUHAN! Ia akan seperti semak bulus di padang belantara, ia tidak akan mengalami datangnya keadaan baik; ia akan tinggal di tanah angus di padang gurun, di negeri padang asin yang tidak berpenduduk.

Orang yang hidup dalam kutuk akan senantiasa mengalami stress. Bahkan bila stress ini terus berlanjut maka tidak jarang akan mengambil tindakan nekat, yaitu bunuh diri? Mengapa? Itu karena hidup mereka senantiasa kekeringan, tidak mendapat penghiburan dari Tuhan. Keadaan baik dan pemulihan yang mereka harapkan tidak kunjung terjadi. Itulah suasana hidup dalam kutuk.

Tetapi akan berbeda bagi orang yang mengandalkan dan menaruh harapannya kepada Tuhan. Mereka tidak akan pernah stress, walaupun mereka banyak pikiran, mereka tidak akan tertekan karena akan mendapat penghiburan dari Tuhan. Itu dapat kita lihat pada ayat dibawah:

Mazmur 94:19 Apabila bertambah banyak pikiran dalam batinku, penghiburan-Mu menyenangkan jiwaku.

Penghiburan dari dunia tidak akan sama dengan penghiburan yang berasal dari Tuhan. Penghiburan dari dunia terbatas dan hanya bertahan sebentar karena tidak mempunyai kekuatan di dalamnya, tetapi penghiburan dari Tuhan akan meyentuh hati yang paling dalam dan mendatangkan damai sejahtera yang membangkitkan kekuatan kita untuk bangkit.

Oleh sebab itu apabila ada diantara kita saat ini ada yang merasa stress dan tertekan, mari kita koreksi diri kita apakah kita mengandalkan Tuhan apa tidak. Jika kita sedang mengalami stress dan perasaan tertekan itu artinya kita tidak mengandalkan Tuhan. Hati-hatilah karena kutuk sudah menanti. Berpalinglah kepada Tuhan dan andalkanlah Dia. Tuhan tidak menolak jika kita datang kepadanya. Justru Tuhan senang jika kita menyerahkan beban hidup kita kepada-Nya.
Itu dapat kita lihat pada ayat dibawah

Matius 11:28 Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.

Saudaraku, ketika kita mengandalkan Tuhan itu sama dengan kita mendekatkan diri pada sumber berkat itu yaitu Tuhan. Jadi, jika kita sudah dekat dengan sumber berkat, apalagi yang harus kita kuatirkan? Oleh sebab itu mari datang kepada Tuhan dan mengandalkan serta berharap kepada-Nya. Maka IA yang merupakan sumber berkat akan mencurahkan berkatnya dan tidak akan membiarkan kita mengalami kekeringan.Tuhan Yesus memberkati.Amin

Dikutip : http://www.renungan-kristen.com

Serahkanlah perbuatanmu kepada TUHAN, maka terlaksanalah segala rencanamu

Amsal 16:3 Serahkanlah perbuatanmu kepada TUHAN, maka terlaksanalah segala rencanamu.

Ayat ini menguatkan apa yang sudah kita bahas beberapa hari lalu tentang diberkatilah orang yang mengandalkan Tuhan. Menyerahkan segala perbuatan kita kepada Tuhan adalah wujut lain dari mengandalkan Tuhan. Sama halnya dengan mengandalkan Tuhan mendatangkan berkat maka menyerahkan segala perbuatan kita juga mendatangkan berkat, yaitu segala rencana kita akan terlaksana. Apa yang kita harapkan yang menjadi tujuan dari rencana itu akan tercapai.

Banyak hal yang harus kita korbankan dalam hal menyusun rencana terutama materi dan tenaga. Kita ambil contoh sebuah perusahaan. Sebuah perusahaan dalam menyusun rencana kerja bisa mengeluarkan banyak uang dan melibatkan banyak orang. Akhir tahun yang lalu di tempat kami bekerja mengadakan rapat sampai beberapa hari untuk merencanakan program kerja tahun 2010. Pada rapat final, dana yang dibutuhkan khusus untuk divisi kami mencapai lebih dari 2 M dan melibatkan banyak orang, bagaimana dengan divisi lain? Saya kira hampir sama. Bagaimana kalau tujuan dari rencana ini tidak tercapai? Rugi besar bukan? Satu hal saya mohon kiranya Tuhan memberkati rencana ini agar tercapai sesuai tujuan.

Saudaraku, mengapa kita harus menyerahkan segala perbuatan kita kepada Tuhan? Itu karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi dimasa depan. Kita hanya bisa memprediksi sesuai dengan kemampuan analisa kita tetapi yang tahu pasti hanya Tuhan. Tuhan menyatakan itu pada ayat dibawah:

Yakobus 4:13-14 Jadi sekarang, hai kamu yang berkata: “Hari ini atau besok kami berangkat ke kota anu, dan di sana kami akan tinggal setahun dan berdagang serta mendapat untung”, sedang kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap.

Banyak orang yang stress karena apa yang di rencakanannya lari dari apa yang diperkirakannya. Mereka stress karena tidak habis pikir kenapa perencanaan mereka bisa lari padahal recana itu sudah dipertimbangkan dan di analisa masak-masak. Secara logika seharusnya mereka mencapai keuntungan tetapi yang terjadi malah sebaliknya. Akbatnya mereka kehilangan segalanya.

Jika hal itu pernah terjadi pada diri kita mari kita koreksi apakah kita menyerahkan rencana itu kepada Tuhan. Apakah kita hanya mengandalkan kekuatan dan kehebatan kita?. Ingat, kita telah membahas tentang “diberkatilah orang yang mengandalkan Tuhan dan terkutuklah orang yang mengandalkan manusia”. Jika kita mengandalkan Tuhan maka kita akan menuai berkat, tetapi sebaliknya jika kita mengandalkan kekuatan kita maka siaplah untuk kecewa karena kita tidak menuai hasil sesuai dengan apa yang kita harapkan. Lalu apa yang harus kita perbuat?                                                                Mari kita perhatikan ayat dibawah :

Yakobus 4:15 Sebenarnya kamu harus berkata: “Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu.”

Oleh sebab itu mari andalkan Tuhan, mari menyerahkan segala perbuatan kita dan mengandalkan Tuhan Tuhan dalam hidup kita maka segala yang kita rencanakan akan Tuhan berkati. Tuhan Yesus memberkati. Amin

Dikutip : http://www.renungan-kristen.com

ROH MEMANG PENURUT, TETAPI DAGING LEMAH

Matius 26:41 Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah.”

Malam sebelum ditangkap Yesus mengajak murid-muridnya ke Taman Getsemani untuk
berdoa, sementara Yesus berdoa murid-murid-Nya menunggu disuatu tempat yang tidak jauh dari-Nya. Apa yang terjadi ketika Yesus kembali kepada mereka? Yesus menemukan mereka sedang tertidur. Itu terjadi sebanyak tiga kali. Akan hal itu Yesus berkata kepada mereka “Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah.”

Satu kata kunci yang sangat menarik yang Tuhan katakan yaitu “roh memang penurut, tetapi daging lemah” . Benar! Roh
memang penurut dan ingin melakukan kehendak Allah yaitu perbuatan kebenaran, namun yang menjadi penghalang bagi kita untuk melakukan kebenaran itu adalah daging yang lemah. Keinginan daging selalu bertentangan dengan keinginan roh. Itu dapat kita lihat pada ayat dibawah:

Galatia 5:17 Sebab keinginan daging berlawanan dengan keinginan Roh dan keinginan Roh berlawanan dengan keinginan daging — karena keduanya bertentangan — sehingga kamu setiap kali tidak melakukan apa yang kamu kehendaki.

Hal yang sama di alami oleh Tuhan Yesus, ditaman Getsemani Ia harus berjuang untuk mengalahkan keinginan daging-Nya. Selama satu jam Ia berdoa dan berjuang untuk mengalahkan keinginan daging-Nya. Hal itu dapat kita lihat melalui ucapan dalam doa-Nya “Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki”.

Melalui doa-Nya itu kita dapat melihat bahwa Roh Tuhan Yesus ingin melakukan kehendak Bapa yaitu minum cawan penderitaan, di tangkap, disiksa dan mati di kayu salib demi menebus dan menyelamatkan dosa seluruh manusia, tetapi daging-Nya lemah, daging-Nya tidak ingin mengalami penderitaan. Perjuangan melawan keinginan daging begitu berat sampai Yesus mengeluarkan peluh yang seperti titik-titik darah. Tuhan Yesus terus berdoa sampai akhirya keinginan daging-Nya kalah oleh keinginan Roh-Nya. Itu dapat kita lihat dari tahapan ucapan doa Yesus.

Tahap pertama Yesus berkata “Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.” Tahap ini kita lihat bahwa keinginan daging dari Yesus untuk menghindar dari cawan penderitaan begitu besar, dan itu harus di kalahkannya.

Tahap kedua Yesus sudah dapat mengalahkan keinginan daging-Nya, itu dapat kita lihat pada doa-Nya yang kedua berbeda dengan yang pertama “Ya Bapa-Ku jikalau cawan ini tidak mungkin lalu, kecuali apabila Aku meminumnya, jadilah kehendak-Mu!” Ucapan kedua ini tidak sama lagi dengan ucapan yang pertama. Pada doa ini Yesus sudah dengan yakin bahwa Dia harus melalui cawan itu, tidak ada pilihan lain.

Pada tahap ketiga Yesus mengucapkan doa yang sama yang di ucapkan pada tahap dua ini. Doa ini semakin menyempurnakan keyakinan Tuhan Yesus bahwa Ia harus meminum cawan penderitaan itu. Pada tahap ketiga ini 100% Tuhan Yesus telah mengalahkan keinginan daging-Nya.

Apa makna yang dapat kita ambil dari kisah ini?
Maknanya adalah bahwa keinginan daging dapat dikalahkan dengan berjaga-jaga dan berdoa!
Setiap hari kita mengalami ujian, banyak hal dalam kehidupan sehari-hari yang membuat roh kita bertentangan dengan keinginan daging. Mungkin secara tidak sengaja kita melihat hal-hal yang najis. Ketika melihat itu, roh kita mengatakan bahwa hal itu tidak baik untuk dilihat, tetapi keinginan daging kita ingin melihatnya terus. Mungkin saja dengan tidak sengaja ada seseorang yang memancing emosi kita, roh kita mengatakan jangan meladeni, tetapi daging yang telah di kuasai oleh amarah dan harga diri ingin meladeninya. Masih banyak lagi contoh lain yang dapat kita lihat yang akan menguji kita. Ujian akan membuktikan kita takluk pada siapa. Apakah kita takluk pada keinginan daging atau takluk pada keinginan roh.

Lalu bagaimana kita agar berkemenangan melawan keinginan daging itu? Tuhan Yesus telah memberikan solusi yaitu dengan berjaga-jaga dan berdoa. Berjaga-jaga dan berdoa adalah wujut dari persekutuan pribadi dengan Tuhan. Memiliki persekutuan pribadi dengan Tuhan membuat roh kita menjadi kuat. Persekutuan pribadi yang kuat dengan Tuhan membuat hidup kita dipimpin oleh Roh. Kehidupan yang di pimpin oleh Roh akan mengalahkan segala keinginan daging. Oleh sebab itu milikilah persekutuan pribadi dengan Tuhan setidaknya satu jam setiap hari maka kita akan mengalahkan keinginan daging. Tuhan Yesus memberkati kita.Amin

Dikutip : http://www.renungan-kristen.com

CARA HIDUP KITA DITENTUKAN OLEH PIKIRAN KITA

Kolose 3:2 Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi.

Ayat singkat yang sederhanana namun mempunyai pengaruh yang besar terhadap hidup kita. Apa kita dan siapa kita bahkan kemana kita nanti adalah tergantung dari apa dan bagaimana cara kita berpikir. Sikap yang ditunjukkan oleh manusia dalam kehidupan sehari-hari adalah ekspresi dari apa yang dia pikirkan. Orang melakukan kebaikan karena ia memikirkan hal-hal yang baik, orang melakukan kejahatan karena ia memikirkan hal-hal yang jahat. Orang menjadi gembira karena ia memikirkan hal-hal yang menggembirakan. Orang menjadi sedih karena ia memikirkan hal-hal yang menyedihkan. Jadi.sikap kita adalah ekspresi dari apa yang kita pikirkan. Bahkan tidak jarang bagaimana cara kita berpikir juga bisa mempengaruhi kondisi tubuh kita. Orang yang senantiasa berpikir positipcenderung lebih sehat dari pada orang yang senantiasa berpikir negatip. Itulah sebabnya ada firman yang berkata “hati yang gembira adalah obat yang manjur” itu dapat kita temukan pada ayat dibawah:

Amsal 17:22 Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah
mengeringkan tulang.

Jadi, inti dari seluruh kehidupan manusia adalah terletak dalam pikirannya. Tubuh di kendalikan oleh pikiran kita itulah sebabnya bagaimana dan apa yang kita pikirkan itulah yang akan keluar dari gerakan dan ekspresi tubuh kita.

Satu hal yang perlu kita syukuri bahwa kita tidak bisa memikirkan hal yang berbeda dalam waktu yang bersamaan. Maksudnya begini, jika pada detik ini kita memikirkan hal A maka pada detik yang sama kita tidak akan bisa memikirkan hal B. Kita tidak akan bisa memikirkan hal A dan B dalam waktu yang bersamaan. Berbeda dengan tubuh, anggota tubuh bisa melakukan beberapa hal yang berbeda dalam waktu yang bersamaan, misalnya mulut bisa mengunyah pada saat mata sedang menonton televisi. Dan satu hal yang jangan kita lupakan bahwa selagi kita sadar maka pikiran kita tidak akan pernah kosong. Kalau kita tidak memikirkan A maka kita akan memikirkan B, C atau D. Sama seperti Gelas, gelas yang tadinya diisi penuh dengan air ketika airnya di tuangkan maka gelas diisi oleh udara. Ingat, gelas itu tidaklah kosong melainkan air digantikan oleh udara.

Mengapa saya katakan kita patut mensyukuri? Karena dengan demikian kita lebih gampang mengarahkan dan mengendalikan hidup kita. Jika kita ingin hidup benar dan kudus maka kita tinggal mengarahkan pikiran kita kepada hal-hal yang benar dan kudus. Berusahalah untuk tetap mengarahkan pikiran kepada hal-hal tersebut sebab dengan demikian maka pikiran kita tidak ada tempat lagi untuk hal-hal yang lain.

Saudaraku, Paulus mengerti tentang hal ini. Itulah sebabnya dia meminta kepada jemaat di Kolose untuk mengalihkah pikiran kepada perkara-perkara yang di atas yaitu perkara dimana Kristus ada, itulah perkara-perkara yang ada di surga. Seperti yang saya ungkapkan diatas bahwa kita tidak bisa memikirkan hal yang berbeda pada waktu bersamaan. Ketika kita memikirkan perkara yang ada di surga maka dalam waktu yang bersamaan kita tidak akan memikirkan perkara yang ada di bumi. Perkara-perkara di surga adalah perkara-perkara Rohani yaitu kebenaran dan kekudusan. Sementara perkara-perkara di bumi adalah perkara-perkara kenajisan, kejahatan, perseteruan dan lain sebagainya dan hal itu dapat kita lihat pada ayat dibawah:

Kolose 3:5 Karena itu matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala,

Mengisi pikiran kita dengan perkara-perkara di surga berarti kita tidak memberi tempat hal-hal duniawi untuk mengisi pikiran kita.

Mengapa ada orang sangat sulit mengubah perilaku buruknya? Itu karena dia tidak menjaga pikirannya. Ia tidak memenuhi pikirannya dengan perkara-perkara diatas yaitu surga, ia memberikan kesempatan pikirannya untuk memikirkan hal-hal di dunia ini, maka yang keluar dari ekspresi tubuhnya dan perbuatannya adalah hal-hal dunia ini.

Saudaraku, namun satu hal jangan lupa bahwa hal ini tidaklah mudah dilakukan . Dengan kekuatan sendiri kita tidak akan sanggup melakukannya. Tetapi jika kita mengandalkan Tuhan, maka kita akan sanggup mengarahkan pikiran kita untuk senantiasa tertuju kepada-Nya. Karena bersama dengan Tuhan kita sanggup melakukan perkara-perkara yang besar. Tuhan Yesus memberkati.Amin

Dikutip : http://www.renungan-kristen.com

KEHIDUPAN YANG BERDAMPAK KE ANAK CUCU

Mazmur 37:25 Dahulu aku muda, sekarang telah menjadi tua, tetapi tidak pernah kulihat orang benar ditinggalkan, atau anak cucunya meminta-minta roti;

Ayat ini dituliskan oleh Daud, seorang raja besar yang pernah ada di Israel yang namanya masih diingat sampai saat ini walaupun telah ribuan tahun berlalu. Daud memulai hidupnya dari seorang yang kecil yang bukan apa-apa dalam pandangan manusia. Ia bahkan di pandang hina dan di sepelekan oleh saudara-suadaranya. Ia memulai karirnya melalui padang penggembalaan yaitu menggembalakan dua tiga ekor domba saja. Itu kita lihat pada ayat dibawah:

1Samuel 17:28 Ketika Eliab, kakaknya yang tertua, mendengar perkataan Daud kepada orang-orang itu, bangkitlah amarah Eliab kepada Daud sambil berkata: “Mengapa engkau datang? Dan pada siapakah kautinggalkan kambing domba yang dua tiga ekor itu di padang gurun? Aku kenal sifat pemberanimu dan kejahatan hatimu: engkau datang ke mari dengan maksud melihat pertempuran.”

Dari ayat ini jelas sekali rendahnya penilaian Saudara-saudaranya atas Daud, dan justru apa yang di pandang rendah manusia itu yang diangkat oleh Tuhan. Jadi, buat saudara yang mungkin sedang merasa di pandang rendah orang, jangan kecewa sebab bila saudara dengan sabar menerima ejekan itu maka saudara akan diangkat oleh Tuhan.

Daud, orang yang di pandang rendah oleh saudara-saudaranya bahkan oleh Saul tidak berubah sikap dalam hidupnya. Kesetiaan Daud kepada Tuhan tidak pernah luntur. Di padang penggembalaan yang hina itu Daud sering memainkan kecapi menaikkan puji-pujian pengagungan kepada Tuhan. Karena itulah Daud di pilih Tuhan untuk menolong Saul dari
pengaruh roh jahat yang mengganggunya sejak roh Tuhan meninggalkannya. Puji-pujian mengundang hadirat Tuhan sehingga ketika hadirat Tuhan hadir maka roh-roh jahat pergi. Benarlah apa yang tertulis pada ayat dibawah:

2Korintus 3:17 Sebab Tuhan adalah Roh; dan di mana ada Roh Allah, di situ ada kemerdekaan.

Jadi, buat saudara-saudara yang sedang di ikat oleh kuasa-kuasa kegelapan, jangan lupakan ayat ini. Seringlah naikkan puji-pujian kepada Tuhan. Pujian dan penyembahan kepada Tuhan mengundang hadirat Tuhan. Bila perlu, tinggalkanlah lagu-lagu dunia, sebab lagu-lagu itu akan mengundang roh-roh dunia untuk mengikat saudara.

Kembali ketopik, Daud yang sejak kecil sudah setia kepada Tuhan, di perhatikan oleh Tuhan. Bahkan karena kesetiaannya, Tuhan mengikat perjanjian dengannya, bahkan perjanjian tanpa syarat. Itu kita temukan pada ayat dibawah:

2Samuel 7:16 Keluarga dan kerajaanmu akan kokoh untuk selama-lamanya di hadapan-Ku, takhtamu akan kokoh untuk selama-lamanya.”

Kesetiaan Daud kepada Tuhan membawa dampak positip bagi keturunannya. Dan memang terbukti keturunan-keturunan Daud selanjutnya Tuhan angkat menjadi raja memerintah atas Israel bahkan menjadi raja selama-lamanya yaitu Tuhan kita Yesus Kristus.

Dari sini kita lihat bahwa orang yang setia dan hidup benar di hadapan Tuhan akan Tuhan perhatikan. Bukan hanya hidupnya, juga hidup anak cucunya.

Mazmur 128:1,3-4 Nyanyian ziarah. Berbahagialah setiap orang yang takut akan TUHAN, yang hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya! Isterimu akan menjadi seperti pohon anggur yang subur di dalam rumahmu; anak-anakmu seperti tunas pohon zaitun sekeliling mejamu! Sesungguhnya demikianlah akan diberkati orang laki-laki yang takut
akan TUHAN.

Saudaraku, disini perlu kita ingat bahwa apapun yang kita perbuat akan berdampak bagi anak cucu kita. Janganlah kita berpikir bahwa apa yang kita perbuat hanya berdampak bagi hidup kita saja. Masa depan anak cucu kita dipengaruhi oleh apa yang kita perbuat saat ini. Bila kita hidup benar dan setia di dalam Tuhan maka Tuhan akan memberkati kita dan berkat itu akan turun sampai ke anak cucu. Namun bila kita tidak hidup benar dan menyimpang dari jalan Tuhan maka kutuk ada dihadapan kita dan kutuk itu juga mengalir ke anak cucu. Itu dapat kita lihat pada ayat dibawah:

Ratapan 5:7 Bapak-bapak kami berbuat dosa, mereka tak ada lagi, dan kami yang menanggung kedurjanaan mereka.

Nah, bagaimana saudara? Pilih mana? Mau membawa berkat atau kutuk bagi anak cucu? Pilihan ada dalam tangan kita. Jika kita pilih hidup benar dan setia kepada Tuhan, maka kita akan membawa berkat bagi anak cucu. Daud telah menyaksikan itu, seumur hidupnya, ia tidak pernah melihat orang yang hidupnya benar dan setia didalam Tuhan hidupnya meminta-meminta. Bahkan anak cucunya di berkati oleh Tuhan.

Contoh lainnya adalah Obed Edom. Obed Edom hidup setia dan melayani Tuhan. Ketika Tabut perjanjian di letakkan di rumahnya, Ia tidak takut padahal sebelumnya Tabut itu sudah membunuh satu orang yaitu Uza.

2Samuel 6:6-7 Ketika mereka sampai ke tempat pengirikan Nakhon, maka Uza mengulurkan tangannya kepada tabut Allah itu, lalu memegangnya, karena lembu-lembu itu tergelincir. Maka bangkitlah murka TUHAN terhadap Uza, lalu Allah membunuh dia di sana karena keteledorannya itu; ia mati di sana dekat tabut Allah itu.

Karena kesetiaannya itu maka Tuhan memberkati Obed-Edom. Kita lihat pada ayat dibawah:

2Samuel 6:11-12 Tiga bulan lamanya tabut Tuhan itu tinggal di rumah Obed-Edom, orang Gat itu, dan TUHAN memberkati Obed-Edom dan seisi rumahnya. Diberitahukanlah kepada raja Daud, demikian: “TUHAN memberkati seisi rumah Obed-Edom dan segala yang ada padanya oleh karena tabut Allah itu.” Lalu Daud pergi mengangkut tabut Allah itu dari rumah Obed-Edom ke kota Daud dengan sukacita.

Bahkan ketika Tabut itu di pindahkan dari rumahnya, Obed Edom lebih memilih meninggalkan hartanya dan melayani musik dirumah Tuhan sebagai pemain gambu dan Kecapi. Itu kita temukan di ITawarikh 15:18,21. Sebagai hasilnya Tuhan memberkati Obed Edom danKeturunannya. Keturunannya menjadi orang-orang yang berhasil yaitu menjadi pejabat-pejabat pemerintah, orang-orang yang gagah perkasa dan orang-orang yang cakap dalam pekerjaannya. Itu kita temukan dalam 1 Tawarikh 26:6-8. Oleh sebab itu sekali lagi kami bertanya, bagaimana dengan kita saudara? Mau membawa dampak positip kepada anak cucu, yaitu berkat Tuhan? Hiduplah dalam kebenaran dan setialah kepada Tuhan. Tuhan Yesus memberkati kita semua.

Dikutip : http://www.renungan-kristen.com

BERBAHAGIALAH ORANG YANG MISKIN DIHADAPAN ALLAH

Matius 5:3 “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.

Banyak orang yang ingin menjadi kaya dan tidak ingin menjadi miskin. Orang berlomba-lomba dan saling berpacu untuk menjadi kaya. Mereka bekerja keras, menghabiskan waktu seharian demi hanya untuk mengejar harta dunia ini. Tidak heran kalau pepatah yang mereka pegang adalah “Time is Money”, waktu itu adalah uang.

Mereka menganggap bahwa dengan memiliki banyak uang, mereka akan memperoleh kebahagiaan. Uanglah yang menjadi sumber kebahagiaan. Mungkin mereka memiliki rumus seperti ini: Uang sama dengan kebahagiaan, miskin sama dengan penderitaan. Oleh sebab itu mungkin saja mereka tidak setuju dan tidak tertarik dengan judul renungan ini.

Lalu, benarkah mereka menjadi berbahagia dengan memiliki banyak uang? Kenyataannya tidak! Justru orang-orang yang demikian banyak kita temukan memiliki kehidupan yang berantakan. Rumah tangga hancur, anak-anaknya hidup dalam pergaulan bebas, jatuh kedalam budak narkotika dsb.

Saudaraku, orang yang menyandarkan diri kepada uang akan sangat sulit memiliki hati yang mengasihi. Mereka cenderung tidak memiliki belas kasihan. Mereka hanya memikirkan diri sendiri, tidak peduli kepada orang lain. Mengapa demikian? Itu karena hanti mereka hanya tertuju kepada harta mereka, seperti pada ayat dibawah:

Mat 6:21 Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.

Mereka juga tidak mudah percaya kepada orang lain. Mereka hanya percaya kepada diri sendiri dan hanya mengandalkan diri sendiri. Mereka menganggap dengan harta yang mereka miliki, mereka sanggup melakukan apapun tanpa butuh pertolongan orang lain. Maka sebagai akibatnya mereka bukannya memperoleh kebahagiaan melainkan hidup dalam kutuk. Secara materi mereka sepertinya berkecukupan dan berkelimpahan, tetapi pada kenyataannya mereka hidup penuh dengan tekanan (stress) dan kekacauan seperti yang kami sebutkan diatas. Maka genaplah seperti yang tertulis dibawah ini:

Yeremia 17:5-6 Beginilah firman TUHAN: “Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada TUHAN! Ia akan seperti semak bulus di padang belantara, ia tidak akan mengalami datangnya keadaan baik; ia akan tinggal di tanah angus di padang gurun, di negeri padang asin yang tidak berpenduduk

Demikianlah keadaannya bagi mereka yang merasa diri kaya.

Saudaraku, hal yang sama pernah terjadi pada jemaat di Laodikia. Jemaat Laodikia adalah jemaat yang hidup makmur dan hidup dalam kekayaan. Karena telah merasa kaya, mereka merasa sanggup dan tidak butuh pertolongan siapapun. Itu kita temukan pada ayat dibawah ini:

Wahyu 3:17 Karena engkau berkata: Aku kaya dan aku telah memperkayakan diriku dan aku tidak kekurangan apa-apa, dan karena engkau tidak tahu, bahwa engkau melarat, dan malang, miskin, buta dan telanjang,

Secara Jasmani mereka memang Kaya, dan kekayaan itu telah membuat mereka buta dan miskin secara rohani. Jikapun mereka melayani, mereka melayani hanya sebatas kewajiban dan rutinitas saja, bukan karena adanya kerinduan untuk melayani Tuhan. Dan tak jarang orang yang demikian hanya mengejar jabatan saja demi perbaikan status di tengah masyarakat.

Hal yang sama masih kita temukan di gereja-gereja dewasa ini. Ada orang yang merasa memiliki uang berusaha mengejar jabatan dalam gereja. Mereka pilih-pilih pelayanan. Mereka hanya mau menerima pelayanan jika pelayanan itu adalah pelayanan yang sering tampil diatas mimbar. Tapi, lihatlah saudaraku. Tuhan sangat muak dengan orang yang demikian. Sedemikian muaknya, bila di ibaratkan makanan, Tuhan akan memuntahkan dari ulutNya. Itu
kita temukan pada ayat dibawah:

Wahyu 3:16 Jadi karena engkau suam-suam kuku, dan tidak dingin atau panas, Aku
akan memuntahkan engkau dari mulut-Ku.

Saudaraku, apakah mereka akan menjadi orang yang berbahagia? Sesuai dengan ayat pembuka diatas jawabannya adalah tidak! Menurut firman Tuhan, orang yang berbahagia adalah orang yang Miskin dihadapan Allah.

Orang yang merasa miskin dihadapan Allah adalah orang yang hidupnya bergantung kepada Allah. Jika saudara pada saat ini masih miskin secara jasmani, jangan bersedih. Karena kekayaan atau kemiskinan tidak akan pernah membawa engkau kepada kebahagiaan atau penderitaan.

Kekayaan tidak akan menjamin bahwa engkau bisa hidup berbahagia. Demikian juga sebaliknya, kemiskinan juga tidak akan membawa engkau kepada penderitaan. Kebahagiaan atau penderitaan adalah tergantung dengan suasana hatimu.

Saudaraku, kira-kira dua minggu yang lalu saya menghadiri pesta pernikahan seorang kerabat dekat. Ditengah-tengah acara pesta tersebut, saya melihat ada seorang Ibu dengan empat orang anaknya yang masih kecil-kecil (mungkin anak paling besar kira-kira kelas 6 SD). Ibu beserta keempat orang anaknya yang masih kecil-kecil itu bukanlah tamu undangan, melainkan hanya orang yang memanfaatkan acara pesta itu untuk mengais rejeki dari sampah-sampah
sisa pesta.

Mereka datang hanya untuk mengumpul sisa-sisa plastik minuman botol yang sudah dibuang namun masih bisa dijual. Saya juga melihat mereka mengumpulkan beberapa potong pisang yang tidak di makan oleh tamu. Dengan mata kepala saya, saya melihat bagaimana mereka memakan pisang-pisang tersebut. Secara jasmani saya melihat mereka adalah orang miskin dan siapapun yang ditanya pasti akan mengatakan demikian.

Yang menjadi pertanyaan, apakah mereka menderita? Dengan sangat yakin dan pasti saya menjawab, TIDAK!. Mengapa demikian? Karena saya memperhatikan mereka hidup penuh dengan cinta kasih. Keempat anaknya sangat dekat dengan ibunya. Ibunya juga memiliki sifat yang sangat lembut dan penuh kasih kepada anak-anaknya.

Jujur saya katakan, seumur hidup saya, baru pertama kali ini saya melihat hubungan yang sangat harmonis dan penuh kasih antara ibu dan anak demikian juga hubungan kakak beradik walaupun jarak mereka sangat rapat, mungkin jarak antar anak hanya 1,5 tahun saja. Terlebih lagi mereka hidup dalam kekurangan dan kemiskinan, bukan dalam kelimpahan. Saya sangat tersentuh ketika mereka dengan uang 2.000 rupiah membeli 2 cup eskrim dan di bagi rata.      1 cup eskrim untuk dua orang sementara 1 cup eskrim lagi di bagi 3 orang.

Yang paling membuat saya terkagum dengan keluarga ini adalah ketika si kakak tertua menemukan dan memakan sepotong pisang yang tidak dimakan oleh tamu. Baru saja si kakak memakan sekali gigit, seorang adiknya laki-laki yang kebetulan berada diatas pohon meminta kepada si kakak. Dengan tiada berbantah, si kakak langsung memanjat pohon dan memberikan sisa pisangnya kepada si adik. Sungguh keluarga yang sangat berbahagia.

Saudaraku, jujur saya katakan, dari hati saya terdalam saya menyatakan sangat salut dan hormat kepada keluarga ini. Satu hal saya yakin, bahwa keluarga ini hidup takut dan terdidik dalam Tuhan. Mengapa saya pastikan demikian?

Pertama, lama saya amati dan perhatikan, walaupun kehidupan mereka adalah kehidupan jalanan, tidak pernah satu kata kotorpun keluar dari mulut anak-anaknya yang masih kecil-kecil itu. Tidak seperti anak jalanan lain yang tidak takut akan Tuhan. Dalam setiap canda mereka satu atau dua kata kotor pasti akan keluar dari mulut mereka.

Kedua, dalam bermain, mereka tidak berlaku kasar dan curang satu dengann lainnya, tidak ada kesan kekerasan dalam permainan mereka. Tidak seperti permainan anak jalanan lainnya yang cenderung kasar dan keras. Hubungan mereka penuh dengan kasih sayang.

Ketiga, yang sangat meyakinkan saya bahwa mereka hidup takut dan terdidik dalam Tuhan adalah ketika saya melihat di leher salah seorang anak perempuan terdapat sebuah kalung salib imitasi. Kalung salib itu tidak berada tersembunyi dibalik bajunya melainkan di sebelah luar dari bajunya sehingga dapat dilihat oleh semua orang.

Memang tidak jaminan bahwa orang yang memakai kalung salib adalah orang yang takut akan Tuhan karena para preman di pasar pun ada yang memakai kalung salib. Tapi Alkitab mencatat bahwa pohon dapat dilihat dari buahnya. Dan saya yakin bahwa keluarga ini adalah keluarga yang takut akan Tuhan karena saya telah melihat buahnya.

Saudaraku, sekali lagi saya katakan bahwa kekayaan tidak menjamin bahwa saya dan saudara bisa hidup berbahagia. Yang bisa menjamin saudara hidup berbahagia adalah firman Tuhan. Dan firman Tuhan berkata bahwa orang yang berbahagia adalah orang yang merasa miskin di hadapan Allah.

Orang yang merasa miskin dihadapan Allah adalah orang yang merasa tidak mempunyai apa-apa dan menyerahkan hidupnya sepenuhnya kepada Allah. Orang miskin dihadapan Allah adalah orang yang mengandalkan Allah sebagai satu-satunya sumber pertolongan. Dan yakinlah bahwa orang yang demikian adalah orang akan memperoleh kebahagiaan.

Yeremia 17:7-8 Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN! Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah.

Daud, adalah seorang yang sukses dalam segala hal di dunia ini. Ia seorang pemimpin yang sukses, di segani dan di takuti oleh seluruh raja-raja disekitarnya. Ia juga seorang yang sangat kaya karena memiliki harta yang berlimpah. Pokoknya dimata dunia, Daud adalah seorang yang sangat kaya. Namun, tahukah saudara bahwa kekayaan dan kesuksesan itu tidak membawa kebahagiaan di hati Daud? Di dalam hatinya yang terdalam Daud menyatakan bahwa kebahagiaan ketenangan hanya di dalam Tuhan. Itu kita temukan pada ayat dibawah:

Mazmur 62:2 Hanya dekat Allah saja aku tenang, dari pada-Nyalah keselamatanku.

Daud tidak berkata kepada dirinya “Tenanglah hai jiwaku, sebab padamu banyak harta dan istri-istri yang cantik-cantik. Beristirahatlah dengan tenang hai jiwaku”. Tidaklah demikian Daud berkata. Tidak seperti seorang kaya yang terdapat dalam alkitab yang menyandarkan dirinya pada kekayaannya yang akhirnya ketika rohnya di cabut dari tubuhnya,
ia harus meninggalkan semua harta kekayaan dan pergi ke alam maut yang penuh penderitaan tanpa membawa apa-apa. Kisahnya dapat kita baca dibawah:

Lukas 12:18-21 Lalu katanya: Inilah yang akan aku perbuat; aku akan merombak lumbung-lumbungku dan aku akan mendirikan yang lebih besar dan aku akan menyimpan di dalamnya segala gandum dan barang-barangku. Sesudah itu aku akan berkata kepada jiwaku: Jiwaku, ada padamu banyak barang, tertimbun untuk bertahun-tahun lamanya; beristirahatlah, makanlah, minumlah dan bersenang-senanglah! Tetapi firman Allah kepadanya: Hai engkau orang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil dari padamu, dan apa yang telah kausediakan, untuk siapakah itu nanti? Demikianlah jadinya dengan orang yang mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri, jikalau ia tidak kaya di hadapan Allah.”

Jadi, sebagai kesimpulan. Kekayaan tidak menjamin saudara hidup bahagia. Orang yang berbahagia adalah orang yang merasa miskin dihadapan Allah, yaitu orang yang menggantungkan dan menyerahkan hidupnya sepenuhnya kepada Allah.

Tidak salah jika saudara bekerja keras dan memperoleh harta yang berlimpah di dunia ini. Yang menjadi salah adalah ketika saudara telah menikmati hasil kerja keras saudara dan menganggap bahwa harta yang saudara peroleh itu adalah karena usaha dan kekuatan saudara.

Harta itu akan menjadi berkat ketika saudara merasa bahwa harta itu adalah hasil pertolongan dan pemberian Tuhan. Namun sebaliknya, harta itu akan menjadi kutuk ketika saudara merasa bahwa harta itu adalah hasil usaha dan kerja keras saudara. Tuhan Yesus memberkati. Amin

Dikutip : http://www.renungan-kristen.com

MENGENAL PIKIRAN TUHAN

Matius 16:23 Maka Yesus berpaling dan berkata kepada Petrus: “Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia.”

Suatu ketika Yesus menyatakan kepada murid-murid-Nya bahwa dia harus pergi ke Yerusalem dan menanggung banyak penderitaan dari pihak tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan di bangkitkan pada hari yang ketiga. Ketika mendengar itu, Petrus menarik Yesus dan berkata: “Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali takkan menimpa Engkau.” Apa yang dikatakan Petrus membuat Yesus balik menegur dan berkata: “ Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia.” Dari kisah ini kita melihat perbedaan pola pikir yang kontras. Pikiran Tuhan tidak sama dengan pikiran Petrus (Manusia). Manusia berpikir bagaimana supaya hidupnya senantiasa mengalami hal-hal yang baik dalam kehidupan di dunia ini, hidup enak tidak perlu mengalami kesusahan. Artinya fokusnya hanya pada diri sendiri.Sementara itu Tuhan berpikir bagaimana supaya manusia itu mengalami kebaikan yang kekal, yaitu keselamatan. Jadi fokus Tuhan bukan pada diri sendiri tetapi kepada keselamatan seluruh umat manusia.

Apa jadinya jika Tuhan Yesus mengikuti pola pikir Petrus dan tidak jadi pergi ke Yerusalem? Maka yang terjadi adalah rencana Allah untuk keselamatan manusia tidak di genapi. Manusia akan mengalami kebinasaan kekal, hidup dalam kutuk dosa. Perbedaan pola pikir ini sudah pernah di tuliskan oleh nabi Yesaya, itu dapat kita lihat pada ayat dibawah:
Yesaya 55:8 Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu.
Paulus adalah orang yang mengenal pikiran dan kehendak Allah. Dia mengenal betul jalan pikiran Tuhan. Ketika Paulus berada di Kaisarea dirumah Filipus, seorang nabi bernubuat bahwa Paulus akan di tangkap di Yerusalem dan di penjarakan.Itu dapat kita lihat pada ayat dibawah:

Kisah Para Rasul 21:11 Ia datang pada kami, lalu mengambil ikat pinggang Paulus.
Sambil mengikat kaki dan tangannya sendiri ia berkata: “Demikianlah kata Roh Kudus:
Beginilah orang yang empunya ikat pinggang ini akan diikat oleh orang-orang Yahudi di
Yerusalem dan diserahkan ke dalam tangan bangsa-bangsa lain.”
Mendengar nubuatan itu, sahabat-sahabat dan murid-muridnya mencegah dia untuk pergi ke
Yerusalem. Namun apa yang di katakan Paulus? Kita lihat pada ayat dibawah:

Kisah Para Rasul 21:13 Tetapi Paulus menjawab: “Mengapa kamu menangis dan dengan
jalan demikian mau menghancurkan hatiku? Sebab aku ini rela bukan saja untuk diikat,
tetapi juga untuk mati di Yerusalem oleh karena nama Tuhan Yesus.”
Kalau kita baca pada ayat selanjutnya, kita akan menemukan Paulus tetap berangkat ke
Yerusalem dan di tangkap di sana. Mengapa Paulus bersikeras pergi ke Yerusalem untuk di
tangkap? Itu karena dia mengenal pikiran Tuhan. Dia tahu bahwa Tuhan akan memakainya
untuk membawa berita keselamatan kepada bangsa-bangsa. Jalan untuk membawa berita
keselamatan itu adalah melalui sengsara dalam penjara. Benar! Setelah Paulus di tangkap, dia
di bawa kepada Roma dimana selama di perjalanan dan di kota Roma, Paulus memberitakan
berita keselamatan dari Tuhan.
Hal yang sama juga di alami oleh Yusuf. Tuhan merencanakan dan memakai Yusuf untuk
menyelamatkan kaum keluarganya untuk suatu bencana kelaparan yang akan terjadi beberapa
tahun mendatang. Untuk itu Yusuf harus banyak mengalami penderitaan dan kesengsaraan
dalam hidupnya. Namun kalau kita baca kisahnya, kita tidak akan melihat satu katapun
sungut-sungut keluar dari mulut Yusuf. Mengapa? Itu karena Yusuf mengenal jalan pikiran
Tuhan, bahwa Tuhan punya rencana yang indah dalam hidupnya. Dia tahu bahwa Tuhan akan
memakainya untuk menyelamatkan kaum keluarga dan bangsanya karena sebelumnya Tuhan
sudah menyatakannya melalui mimpi.
Saudaraku, ada seorang teman yang banyak mengalami cobaan silih berganti dalam hidupnya.
Di keluarganya, dia adalah anak paling kecil namun mengambil tanggung jawab anak paling
besar. Saat ini dia mengalami sakit penyakit yang tidak jelas apa penyakitnya. Dokter belum
bisa memastikan jenis penyakit yang di deritanya. Terakhir cobaan yang datang setelah sakit
penyakit itu adalah bahwa ia kehilangan pekerjaan karena pada awal Januari ini perusahaan
tempat dia bekerja ditutup. Awalnya sahabat ini putus asa dan merasa di tinggal oleh Tuhan.
Namun setelah banyak berdikusi dan berbicara dengan hamba Tuhan dan anak-anak Tuhan
akhirnya sahabat ini kembali dikuatkan. Apa sebenarnya yang terjadi, mengapa Tuhan ijinkan
sahabat ini mengalami penderitaan? Setelah melihat perkembangan terakhir, kami pribadi
sangat yakin bahwa Tuhan punya rencana yang indah buat sahabat ini melalui penderitaannya,
yaitu:
1. Tuhan memulihkan hubungannya dengan kakaknya yang tertua. Sebelumnya sahabat ini
sangat kecewa dengan kakaknya yang berada di luar kota.Kekecewaan itu sampai
menimbulkan akar pahit. Namun saat ini mereka sudah saling mengampuni.
2. Melalui penderitaan itu, Tuhan singkapkan kehidupan masa lalunya bahwa pada masa
kecilnya dia pernah dibawa oleh orang tuanya ke dalam kuasa kegelapan untuk mengobati
suatu penyakit.
3. Melalui penderitaan itu Tuhan singkapkan bahwa di rumah itu ada beberapa benda najis
milik berhala yang merupakan peninggalan dari orang tuanya. Dahulu orangtuanya sering tugas
ke berbagai tempat. Disetiap tempat tugas pasti menerima cenderamata dari penduduk
setempat, dimana cendara mata itu berbentuk keris atau pedang dan berbagai bentuk lainnya.
Puji Tuhan! Benda itu sekarang sudah dibakar dan di musnahkan.
Setelah semuanya dipulihkan dan barang najis itu dimusnahkan, kondisi sahabat ini cukup banyak mengalami kemajuan. Kita berdoa Tuhan terus menyempurnakan kesehatan dari
saudara kita ini.

Yang terakhir, mengenal pikiran Tuhan sangatlah penting bagi kita umat Kristen. Apapun yang
terjadi dalam hidup kita belum tentu bukan rencana Tuhan. Jangan pernah berpikir jika kita
mengalami penderitaan atau kesulitan hidup berarti Tuhan telah meninggalkan kita. Itu tidak
benar, sebab Tuhan sering memakai penderitaan untuk mendidik kita agar lebih lagi mengenal
kehendak Tuhan dalam hidup kita. Tuhan mengijinkan kita mengalami penderitaan agar lebih
tahan uji dan lebih tekun lagi dalam mengenal Tuhan.
Roma 5:3-5 Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan
kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan
menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan. Dan pengharapan tidak
mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus
yang telah dikaruniakan kepada kita.
Oleh sebab itu marilah kita lebih bersabar dan bertekun lagi. Apapun keadaan yang kita alam
pada saat ini percayalah bahwa rancangan Tuhan indah dlamhidup kita. Amin.

Dikutip: http://www.renungan-kristen.com

APAKAH ADA KESELAMATAN DI LUAR YESUS KRISTUS?

Biasanya setiap orang Kristen berpendapat bahwa tidak ada keselamatan di luar Yesus Kristus, bahkan lebih sempit lagi tidak ada keselamatan di luar gereja. Adapun dasar yang dipakai adalah Yohanes 14:6: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak seorang pun datang kepada Bapa kalau tidak melalui Aku”.

William Barclay menafsirkan ayat ini sebagai berikut: Memang banyak orang yang mengajar tentang jalan yang harus ditempuh, tetapi hanya Yesuslah jalan itu dan di luar Dia manusia akan tersesat. Banyak orang yang berbicara tentang kebenaran, tetapi hanya Yesuslah yang dapat mengatakan “Akulah kebenaran” itu. Orang lain mengajarkan tentang jalan kehidupan, tetapi hanya dalam Yesus orang menemukan kehidupan itu. Karena itu hanya Dia saja yang dapat membawa manusia kepada Tuhan.

Lain halnya dengan Samartha yang mengatakan bahwa dalam agama Kristen Yesus Kristus memang juru selamat, tetapi orang Kristen tidak dapat mengklaim bahwa juru selamat hanya Yesus Kristus. Demikian pula Yesus adalah jalan, tetapi jalan itu bukan hanya Yesus, sebab seperti dikatakan Kenneth Cracknell bahwa di luar agama Kristen pun dikenal banyak keselamatan.

Dalam agama Yahudi dikenal istilah Halakhah, yang secara harafiah artinya berjalan. Kata ini merupakan istilah teknis dalam pengajaran agama Yahudi yang berhubungan dengan semua materi hukum dan tatanan hidup sehari-hari. Istilah ini diambil dari Keluaran 18:20: “Kemudian haruslah engkau mengajarkan kepada mereka ketetapan-ketetapan dan keputusan-keputusan yang memberitahukan kepada mereka jalan yang harus mereka jalani dan pekerjaan yang harus mereka lakukan”.

Dalam agama Islam konsep jalan itu terdapat dalam Sura 1:5-7: “…. Hanya Engkaulah yang kami sembah dan hanya kepada Engkau kami mohon pertolongan. Pimpinlah kami ke jalan yang lurus (yaitu), jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka…”

Dalam agama Hindu juga dikenal adanya jalan menuju moksha, menuju kelepasan dari kelahiran kembali, menuju keselamatan, yaitu Jnana marga atau jalan pengetahuan, Karma marga atau jalan perbuatan baik, serta bhakti marga yaitu jalan kesetiaan atau ibadah. Sedangkan dalam agama Budha dikenal Dhama pada, jalan kebenaran menuju nirwana.

Lalu bagaimana hubungan jalan-jalan ini dengan Kristus yang adalah jalan?

Ada berbagai penafsiran, di antaranya: ada banyak jalan kecil-kecil (path), tetapi hanya satu jalan besar (way) yaitu jalan Kristus. Atau ada yang mengatakan ada banyak jalan, termasuk jalan Kristus, tetapi hanya ada satu tujuan yaitu Allah.

Kalau kita memilih yang pertama, memang tidak cocok dengan semangat pluralisme agama-agama, tetapi lebih sesuai dengan teks Yohanes 14:6 Ada banyak jalan tetapi hanya ada satu jalan yang menuju Bapa, yaitu jalan Kristus.

Kalau memilih alternatif kedua, hal itu sesuai dengan semangat pluralisme tetapi persoalan tentang “Tidak seorang sampai kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku” tidak terpecahkan. Dan dengan memilih alternatif kedua, berarti menempatkan Yesus sebagai jalan (cara) untuk mencapai suatu tujuan. Padahal menurut banyak penafsir Yesus itu bukan jalan (cara) untuk mencapai tujuan, tetapi Ia sendiri jalan sekaligus tujuan. Dalam teks dikatakan “Aku adalah… (tiga kata berikutnya mempunyai kedudukan yang sejajar) jalan, kebenaran dan hidup”. Bukan Aku jalan menuju kebenaran dan menuju hidup, juga bukan Aku jalan kebenaran dan jalan hidup.

Penulis setuju bahwa di luar agama Kristen ada jalan (minhaj, marga, dhama pada), ada jalan kebenaran, ada keselamatan, tetapi tidak berarti bahwa jalan Yesus itu jalan yang luar biasa, sedangkan jalan yang lain jalan biasa. Lalu persoalannya adalah bagaimana kalimat “Tidak seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku” harus ditafsirkan?

Konteks ayat ini adalah: Ketika itu Tuhan Yesus berkata kepada para murid-Nya. Ia pergi untuk menyediakan tempat bagi murid-muridnya, kemudian Ia akan kembali menjemput mereka, supaya di mana Yesus berada murid-murid juga berada di sana (Yohanes14:3). Kemudian Thomas berkata: “Tuhan, kami tidak tahu ke mana Engkau pergi, jadi bagaimana kami tahu jalan ke situ?

Dengan perkataan itu Thomas ingin tahu jalannya supaya bisa sampai ke tempat itu dengan cara dan kekuatannya sendiri.

Kemudian Tuhan Yesus menjawab: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup, tidak seorangpun datang kepada Bapa kalau tidak melalui Aku”. Yang dimaksud Tuhan Yesus dengan perkataan itu adalah: Thomas tidak dapat datang ke tempat itu dengan usaha dan kekuatannya sendiri. Kalau toh ia bisa datang ke tempat itu karena Tuhan Yesus yang membawa dia (Bandingkan dengan ayat 3 yang berkata: “Aku akan datang kembali membawa kamu”). Dengan kata lain kalau Thomas bisa datang ke tempat itu, semua itu semata-mata hanya karena anugerah Allah yang nyata dalam kehadiran Yesus Kristus.

Jadi persoalannya bukan di luar Kristus tidak ada jalan, tetapi bagi umat Kristen kita bisa sampai ke tempat di mana Kristus berada, itu semata-mata karena anugerah Allah. Inilah yang membedakan jalan yang ditempuh umat Kristen dan jalan-jalan lainnya. Di sana bukan tidak ada jalan, di sana bisa juga ada jalan, jalan di sana bukan kurang baik, sedang di sini lebih baik, tetapi memang jalan itu berbeda. Dengan demikian pemutlakan orang Kristen terhadap Yesusnya, tidak harus membuat orang Kristen menjadi eksklusif, atau menyamakan saja semua agama.

Kita yakin seyakin-yakinnya bahwa hanya Yesus Kristuslah yang membawa kita kepada keselamatan, tetapi kita juga tidak harus mengatakan di sana, dalam agama lain, sama sekali hanya ada kegelapan dan kesesatan. Kalau kita sendiri tidak rela orang menganggap dalam kekristenan hanya ada kegelapan dan kesesatan, mengapa hal yang sama kita tujukan kepada orang lain.

Apakah pandangan itu tidak memperlemah semangat Pekabaran Injil? Tidak, hanya harus ada orientasi baru tentang Pekabaran Injil.
Pekabaran Injil harus dipahami seperti pemahaman Yesus Kristus sendiri: “Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku untuk menyampaikan kabar baik (mengabarkan Injil) kepada orang-orang miskin, untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang” (Lukas 4:18-19).

Memberitakan Injil tidak lagi dipahami sebagai kristenisasi, tetapi kristusisasi. Menambah jumlah orang-orang yang diselamatkan dan menjadi anggota gereja bukan tujuan pekabaran Injil, tetapi sebagai akibat atau buah pekabaran Injil: “mereka disukai semua orang dan setiap hari Tuhan menambahkan dengan “orang-orang yang diselamatkan” (Kisah Para Rasul 2:46). Buah pekabaran Injil ini mungkin tidak segera kita nikmati dalam kehadiran mereka di gereja, tetapi mungkin pada waktu dan di tempat lain.

Apakah pemahaman Pekabaran Injil ini tidak sama saja dengan pemahaman sebelumnya? Tidak, pada pola pemahaman yang pertama mengesampingkan sikap toleransi yang karenanya dapat menimbulkan kecurigaan bahkan konflik sosial. Dan sering kekristenan mereka yang “bertobat” lebih bersifat emosional. Sedangkan pola pekabaran Injil kedua, sangat bersikap tenggang rasa dan toleran dan bahkan mungkin pekabaran Injil bisa dilakukan dengan kerjasama antar agama. Dan kalau akhirnya ada yang menjadi anggota gereja, kekristenan mereka tidak bersifat emosional, tetapi dengan kesadaran penuh.

APA ITU KESELAMATAN DARI TUHAN

Kematian Yesus di kayu salib adalah keselamatan yang universal bagi seluruh dunia ini.  Kematian di salibkan pada masa itu adalah sebuah hukuman yang terberat. Hukuman yang bagi orang-orang yang sudah tidak pantas  lagi hidup  karena kejahatannya atau karena melawan kekuasaan. Yesus disalibkan bukan karena dosanya namun karena dosa manusia dan karena melawan kekuasaan jahat dunia (keinginan jahat dan kesesatan).

Logika keselamatan dalam alkitab paling sedikit dapat dibagi 3.

I. Sola Gratia, keselamatan yang karena telah dipilih Tuhan dari sejak awal dari sejak bumi ini dijadikan. Keselamatan inilah yang diyakini orang Keristen sebagai ANUGRAH yang diberikan khusus kepada orang-orang pilihan Tuhan. Namun siapakah itu? Inilah yang menjadi sebuah pertannyaan dan ini juga dapat menjadi kesombongan bagi orang-orang Kristen, yang mengatakan asal Kristen pasti selamat. Karena pada dasarnya keselamatan yang dinginkan Allah dari awal itu adalah seperti apa yang ditunjukkan oleh Yesus dalam arti Yesuslah yang menjadi Modelnya.

II. Keselamatan di dalam Yesus. Kematian  Yesus menangung DOSA DUNIA merupakan sebuah keselamatan universal. Yesus menyatakan DAMAI di Bumi seperti di Surga. Itu tidak mungkin dapat tercapai jika tidak semakin banyak manusia yang hidup seperti Yesus, menyebarkan kebaikan dan kedamaian bahkan rela mati untuk menanggung DOSA Seluruh manusia.

Kematian Yesus sesunguhnya MEMPERBAHARUI ARTI KESELAMATAN. Yesus membuka jalan agar orang-orang dapat

1.DILAHIR BARUKAN (adalah awal dari pengenalan dalam mengikut Yesus baca kisah Nikodemus Yoh:12)

2.DIBENARKAN (di dalam Yesus kita dibenarkan secara Hukum walaupun kita bisa saja jatuh lagi kedalam dosa)

3.DIKUDUSKAN (di proses didalam Yesus, di dalam hubungan yang intim dengan Tuhan dan dengan manusia)

4. DIMULIAKAN (Kemuliaan kepada manusia adalah dari Tuhan merupakan sebuah hak Tuhan semata)

5.MENJADI ANAK-ANAK TUHAN (Jesus like, semakin seperti Yesus bahkan hingga terangkat ke surga).

Artinya barang siapa yang menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruslamat, ia layak mendapatkan keselamatan itu. Rahasia Tuhan akan sola gratia (manusia pilihan) dan bukan manusia  pilihan telah menjadi terbuka untuk umum dan menjadi keselamatan yang universal bagi semua manusia.  Sehingga  yang bukan pilihan sekalipun akan selamat karena sudah ada YESUS DENGAN KEMATIANNYA DAN PENEBUSANNYA yang  TELAH MEMPERBAHARUI SISTEM KESELAMATAN ITU. Tentunya kelompok Sola Gratia juga mengalami proses yang sama.

III. Keselamatan yang terserah Tuhan yang maha kuasa, walaupun Yesus mengatakan akulah jalan keselamatan dan hidup dan tidak ada yang sampai kepada Bapa selain melalu AKU. Sebagai manusia kita menyerahkannya kepada Tuhan, Bapa dalam kesatuan ROH.  Agar manusia tidak menjadi hakim bagi orang lain hal keselamatan. Namun siapa yang bertelinga hendaklah ia mendengar.

Dari ketiga Keselamatan ini, keselamatan pertama adalah keselamatan Khusus dan tentunya bagi  mereka yang dipilih sedari awal Tuhan akan menyelamatkanya karena Tuhan YA dan Amen. Bagi keselamtan kedua adalah TERSERAH MANUSIA, karena Tuhan sudah  TURUN TAHTA didalam Yesus dan telah memperbaharui SISTEM KESELAMATN SELURUH MANUSIA, dan semua telah sempurna. Anda mau mengikut Yesus, atau tidak up to one. Dan Yang terakhir adalah ketiga, orang-orang seperti ini sesunguhnya sedang bermain-main dengan keselamtan, namun semua itu terserah Tuhan karena Tuhan bisa memakai siapa saja dan bisa menyelamatkan siapa saja, karena keselamatan seperti in HANYA HAK TUHAN SEMATA.

Mau terima Yesus apa tidak agar bisa selamat semua kembali kepada kita masing-masing.