BERBAHAGIALAH ORANG YANG MISKIN DIHADAPAN ALLAH

Matius 5:3 “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.

Banyak orang yang ingin menjadi kaya dan tidak ingin menjadi miskin. Orang berlomba-lomba dan saling berpacu untuk menjadi kaya. Mereka bekerja keras, menghabiskan waktu seharian demi hanya untuk mengejar harta dunia ini. Tidak heran kalau pepatah yang mereka pegang adalah “Time is Money”, waktu itu adalah uang.

Mereka menganggap bahwa dengan memiliki banyak uang, mereka akan memperoleh kebahagiaan. Uanglah yang menjadi sumber kebahagiaan. Mungkin mereka memiliki rumus seperti ini: Uang sama dengan kebahagiaan, miskin sama dengan penderitaan. Oleh sebab itu mungkin saja mereka tidak setuju dan tidak tertarik dengan judul renungan ini.

Lalu, benarkah mereka menjadi berbahagia dengan memiliki banyak uang? Kenyataannya tidak! Justru orang-orang yang demikian banyak kita temukan memiliki kehidupan yang berantakan. Rumah tangga hancur, anak-anaknya hidup dalam pergaulan bebas, jatuh kedalam budak narkotika dsb.

Saudaraku, orang yang menyandarkan diri kepada uang akan sangat sulit memiliki hati yang mengasihi. Mereka cenderung tidak memiliki belas kasihan. Mereka hanya memikirkan diri sendiri, tidak peduli kepada orang lain. Mengapa demikian? Itu karena hanti mereka hanya tertuju kepada harta mereka, seperti pada ayat dibawah:

Mat 6:21 Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.

Mereka juga tidak mudah percaya kepada orang lain. Mereka hanya percaya kepada diri sendiri dan hanya mengandalkan diri sendiri. Mereka menganggap dengan harta yang mereka miliki, mereka sanggup melakukan apapun tanpa butuh pertolongan orang lain. Maka sebagai akibatnya mereka bukannya memperoleh kebahagiaan melainkan hidup dalam kutuk. Secara materi mereka sepertinya berkecukupan dan berkelimpahan, tetapi pada kenyataannya mereka hidup penuh dengan tekanan (stress) dan kekacauan seperti yang kami sebutkan diatas. Maka genaplah seperti yang tertulis dibawah ini:

Yeremia 17:5-6 Beginilah firman TUHAN: “Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada TUHAN! Ia akan seperti semak bulus di padang belantara, ia tidak akan mengalami datangnya keadaan baik; ia akan tinggal di tanah angus di padang gurun, di negeri padang asin yang tidak berpenduduk

Demikianlah keadaannya bagi mereka yang merasa diri kaya.

Saudaraku, hal yang sama pernah terjadi pada jemaat di Laodikia. Jemaat Laodikia adalah jemaat yang hidup makmur dan hidup dalam kekayaan. Karena telah merasa kaya, mereka merasa sanggup dan tidak butuh pertolongan siapapun. Itu kita temukan pada ayat dibawah ini:

Wahyu 3:17 Karena engkau berkata: Aku kaya dan aku telah memperkayakan diriku dan aku tidak kekurangan apa-apa, dan karena engkau tidak tahu, bahwa engkau melarat, dan malang, miskin, buta dan telanjang,

Secara Jasmani mereka memang Kaya, dan kekayaan itu telah membuat mereka buta dan miskin secara rohani. Jikapun mereka melayani, mereka melayani hanya sebatas kewajiban dan rutinitas saja, bukan karena adanya kerinduan untuk melayani Tuhan. Dan tak jarang orang yang demikian hanya mengejar jabatan saja demi perbaikan status di tengah masyarakat.

Hal yang sama masih kita temukan di gereja-gereja dewasa ini. Ada orang yang merasa memiliki uang berusaha mengejar jabatan dalam gereja. Mereka pilih-pilih pelayanan. Mereka hanya mau menerima pelayanan jika pelayanan itu adalah pelayanan yang sering tampil diatas mimbar. Tapi, lihatlah saudaraku. Tuhan sangat muak dengan orang yang demikian. Sedemikian muaknya, bila di ibaratkan makanan, Tuhan akan memuntahkan dari ulutNya. Itu
kita temukan pada ayat dibawah:

Wahyu 3:16 Jadi karena engkau suam-suam kuku, dan tidak dingin atau panas, Aku
akan memuntahkan engkau dari mulut-Ku.

Saudaraku, apakah mereka akan menjadi orang yang berbahagia? Sesuai dengan ayat pembuka diatas jawabannya adalah tidak! Menurut firman Tuhan, orang yang berbahagia adalah orang yang Miskin dihadapan Allah.

Orang yang merasa miskin dihadapan Allah adalah orang yang hidupnya bergantung kepada Allah. Jika saudara pada saat ini masih miskin secara jasmani, jangan bersedih. Karena kekayaan atau kemiskinan tidak akan pernah membawa engkau kepada kebahagiaan atau penderitaan.

Kekayaan tidak akan menjamin bahwa engkau bisa hidup berbahagia. Demikian juga sebaliknya, kemiskinan juga tidak akan membawa engkau kepada penderitaan. Kebahagiaan atau penderitaan adalah tergantung dengan suasana hatimu.

Saudaraku, kira-kira dua minggu yang lalu saya menghadiri pesta pernikahan seorang kerabat dekat. Ditengah-tengah acara pesta tersebut, saya melihat ada seorang Ibu dengan empat orang anaknya yang masih kecil-kecil (mungkin anak paling besar kira-kira kelas 6 SD). Ibu beserta keempat orang anaknya yang masih kecil-kecil itu bukanlah tamu undangan, melainkan hanya orang yang memanfaatkan acara pesta itu untuk mengais rejeki dari sampah-sampah
sisa pesta.

Mereka datang hanya untuk mengumpul sisa-sisa plastik minuman botol yang sudah dibuang namun masih bisa dijual. Saya juga melihat mereka mengumpulkan beberapa potong pisang yang tidak di makan oleh tamu. Dengan mata kepala saya, saya melihat bagaimana mereka memakan pisang-pisang tersebut. Secara jasmani saya melihat mereka adalah orang miskin dan siapapun yang ditanya pasti akan mengatakan demikian.

Yang menjadi pertanyaan, apakah mereka menderita? Dengan sangat yakin dan pasti saya menjawab, TIDAK!. Mengapa demikian? Karena saya memperhatikan mereka hidup penuh dengan cinta kasih. Keempat anaknya sangat dekat dengan ibunya. Ibunya juga memiliki sifat yang sangat lembut dan penuh kasih kepada anak-anaknya.

Jujur saya katakan, seumur hidup saya, baru pertama kali ini saya melihat hubungan yang sangat harmonis dan penuh kasih antara ibu dan anak demikian juga hubungan kakak beradik walaupun jarak mereka sangat rapat, mungkin jarak antar anak hanya 1,5 tahun saja. Terlebih lagi mereka hidup dalam kekurangan dan kemiskinan, bukan dalam kelimpahan. Saya sangat tersentuh ketika mereka dengan uang 2.000 rupiah membeli 2 cup eskrim dan di bagi rata.      1 cup eskrim untuk dua orang sementara 1 cup eskrim lagi di bagi 3 orang.

Yang paling membuat saya terkagum dengan keluarga ini adalah ketika si kakak tertua menemukan dan memakan sepotong pisang yang tidak dimakan oleh tamu. Baru saja si kakak memakan sekali gigit, seorang adiknya laki-laki yang kebetulan berada diatas pohon meminta kepada si kakak. Dengan tiada berbantah, si kakak langsung memanjat pohon dan memberikan sisa pisangnya kepada si adik. Sungguh keluarga yang sangat berbahagia.

Saudaraku, jujur saya katakan, dari hati saya terdalam saya menyatakan sangat salut dan hormat kepada keluarga ini. Satu hal saya yakin, bahwa keluarga ini hidup takut dan terdidik dalam Tuhan. Mengapa saya pastikan demikian?

Pertama, lama saya amati dan perhatikan, walaupun kehidupan mereka adalah kehidupan jalanan, tidak pernah satu kata kotorpun keluar dari mulut anak-anaknya yang masih kecil-kecil itu. Tidak seperti anak jalanan lain yang tidak takut akan Tuhan. Dalam setiap canda mereka satu atau dua kata kotor pasti akan keluar dari mulut mereka.

Kedua, dalam bermain, mereka tidak berlaku kasar dan curang satu dengann lainnya, tidak ada kesan kekerasan dalam permainan mereka. Tidak seperti permainan anak jalanan lainnya yang cenderung kasar dan keras. Hubungan mereka penuh dengan kasih sayang.

Ketiga, yang sangat meyakinkan saya bahwa mereka hidup takut dan terdidik dalam Tuhan adalah ketika saya melihat di leher salah seorang anak perempuan terdapat sebuah kalung salib imitasi. Kalung salib itu tidak berada tersembunyi dibalik bajunya melainkan di sebelah luar dari bajunya sehingga dapat dilihat oleh semua orang.

Memang tidak jaminan bahwa orang yang memakai kalung salib adalah orang yang takut akan Tuhan karena para preman di pasar pun ada yang memakai kalung salib. Tapi Alkitab mencatat bahwa pohon dapat dilihat dari buahnya. Dan saya yakin bahwa keluarga ini adalah keluarga yang takut akan Tuhan karena saya telah melihat buahnya.

Saudaraku, sekali lagi saya katakan bahwa kekayaan tidak menjamin bahwa saya dan saudara bisa hidup berbahagia. Yang bisa menjamin saudara hidup berbahagia adalah firman Tuhan. Dan firman Tuhan berkata bahwa orang yang berbahagia adalah orang yang merasa miskin di hadapan Allah.

Orang yang merasa miskin dihadapan Allah adalah orang yang merasa tidak mempunyai apa-apa dan menyerahkan hidupnya sepenuhnya kepada Allah. Orang miskin dihadapan Allah adalah orang yang mengandalkan Allah sebagai satu-satunya sumber pertolongan. Dan yakinlah bahwa orang yang demikian adalah orang akan memperoleh kebahagiaan.

Yeremia 17:7-8 Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN! Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah.

Daud, adalah seorang yang sukses dalam segala hal di dunia ini. Ia seorang pemimpin yang sukses, di segani dan di takuti oleh seluruh raja-raja disekitarnya. Ia juga seorang yang sangat kaya karena memiliki harta yang berlimpah. Pokoknya dimata dunia, Daud adalah seorang yang sangat kaya. Namun, tahukah saudara bahwa kekayaan dan kesuksesan itu tidak membawa kebahagiaan di hati Daud? Di dalam hatinya yang terdalam Daud menyatakan bahwa kebahagiaan ketenangan hanya di dalam Tuhan. Itu kita temukan pada ayat dibawah:

Mazmur 62:2 Hanya dekat Allah saja aku tenang, dari pada-Nyalah keselamatanku.

Daud tidak berkata kepada dirinya “Tenanglah hai jiwaku, sebab padamu banyak harta dan istri-istri yang cantik-cantik. Beristirahatlah dengan tenang hai jiwaku”. Tidaklah demikian Daud berkata. Tidak seperti seorang kaya yang terdapat dalam alkitab yang menyandarkan dirinya pada kekayaannya yang akhirnya ketika rohnya di cabut dari tubuhnya,
ia harus meninggalkan semua harta kekayaan dan pergi ke alam maut yang penuh penderitaan tanpa membawa apa-apa. Kisahnya dapat kita baca dibawah:

Lukas 12:18-21 Lalu katanya: Inilah yang akan aku perbuat; aku akan merombak lumbung-lumbungku dan aku akan mendirikan yang lebih besar dan aku akan menyimpan di dalamnya segala gandum dan barang-barangku. Sesudah itu aku akan berkata kepada jiwaku: Jiwaku, ada padamu banyak barang, tertimbun untuk bertahun-tahun lamanya; beristirahatlah, makanlah, minumlah dan bersenang-senanglah! Tetapi firman Allah kepadanya: Hai engkau orang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil dari padamu, dan apa yang telah kausediakan, untuk siapakah itu nanti? Demikianlah jadinya dengan orang yang mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri, jikalau ia tidak kaya di hadapan Allah.”

Jadi, sebagai kesimpulan. Kekayaan tidak menjamin saudara hidup bahagia. Orang yang berbahagia adalah orang yang merasa miskin dihadapan Allah, yaitu orang yang menggantungkan dan menyerahkan hidupnya sepenuhnya kepada Allah.

Tidak salah jika saudara bekerja keras dan memperoleh harta yang berlimpah di dunia ini. Yang menjadi salah adalah ketika saudara telah menikmati hasil kerja keras saudara dan menganggap bahwa harta yang saudara peroleh itu adalah karena usaha dan kekuatan saudara.

Harta itu akan menjadi berkat ketika saudara merasa bahwa harta itu adalah hasil pertolongan dan pemberian Tuhan. Namun sebaliknya, harta itu akan menjadi kutuk ketika saudara merasa bahwa harta itu adalah hasil usaha dan kerja keras saudara. Tuhan Yesus memberkati. Amin

Dikutip : http://www.renungan-kristen.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s